Kisah Suses Usaha Di Bidang Makanan Coklat

Diposkan oleh Hari Best on Selasa, 26 November 2013

Indonesia adalah produsen cokelat ketiga paling besar didunia. Kenyataan tersebut yang merubah jalan hidup Ibu Reny Sukmasari (26). Termotivasi hasrat jadi entrepreneur cokelat, Ibu Reny mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan pekerjaanya untuk jadi pramugari di satu diantara maskapai penerbangan paling besar di Indonesia.

Ibu Reny selanjutnya menggeluti usaha cokelat olahan pada akhir 2012. Pada mulanya dia telah dua th. berprofesi untuk pramugari. Ia mengakui, kesibukannya untuk pramugari membuatnya tidak lagi dapat nikmati hidup.

Ia juga mengambil keputusan untuk banting setir jadi seseorang entrepreneur. Menurut dia, entrepreneur mempunyai kebebasan mengatur kesibukan hingga tetap mempunyai saat untuk keluarga serta rekan.

Pilihannya menggeluti usaha Coklat termasuk berani. Karena, di keluarga dia belum ada yang sempat jadi entrepreneur. Ibu Reny menentukan usaha cokelat lantaran prihatin lihat belum maksimalnya pemakaian cokelat. " Saya prihatin, Indonesia tak populer dengan cokelat, walau sebenarnya produksi cokelat kita benar-benar tinggi, " katanya.

Dari situ ia lalu Termotivasi belajar perihal cokelat. Ia lalu ikuti pelatihan perihal seluk beluk cokelat di Jakarta. Dalam pelatihan singkat itu, ia belajar teori perihal cokelat, pembuatan cokelat, memproses cokelat dengan beragam rasa, sampai penyimpanan cokelat yang baik.

Ia juga berkunjung ke pabrik serta perkebunan cokelat di Jawa Barat. Sesudah memperoleh banyak pengetahuan sekitar cokelat, Juli lalu ia mulai menghasilkan Coklat Joyo. Ia menentukan nama Joyo yang berarti jaya, supaya usahanya dapat berjaya untuk Indonesia.

Didasari hasrat yang simpel ini ia lalu bikin rencana Coklat Joyo untuk oleh-oleh khas Kota Yogyakarta, area tinggalnya saat ini. Untuk pasokan coklat, ia tak kesusahan. Soalnya, di daerah Yogyakarta sendiri banyak petani cokelat, tepatnya di daerah Kulonprogo.

Sampai saat ini, beberapa besar customer Coklat Joyo adalah wisatawan lokal yang berkunjung ke Yogyakarta. Karena inspirasi bisnisnya, wanita kelahiran Rumbai, 1 Juni 1987 ini dipilih untuk finalis dalam arena Diplomat Success Challenge (DSC) yang diselenggarakan Wismilak.

Awalannya, dia memanglah perlu penambahan modal. " Namun walau tak menang, saya memperoleh promosi yang baik serta networking untuk pengembangan usaha saya, " tutur lulusan Tehnik Informatika Kampus Islam Indonesia Yogyakarta ini. Pengalaman ini membuktikan bahwa bisnis coklat sangat cocok dipilih sebagai peluang usaha 2014.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar